Kincir Angin

Beberapa bulan terakhir saya dan keluarga tinggal di dua tempat yakni di rumah kami di perbatasan Depok dengan Tangerang Selatan -- tepatnya di Perumahan Vila Pamulang -- dan Puncak, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Saya menyewa sebuah rumah di kompleks Vila Kota Bunga. Bukan jangka pendek, tapi sewa per enam bulan.bcf7204d_00ce_4e33_b403_47389af3bd68.jpg

Kami menyepi di sana. Betul-betul menyepi dalam arti sebenarnya. Kota Bunga adalah kawasan vila wisata dan hanya ramai pada akhir pekan. Hari-hari biasa sepi. Sangat sedikit yang tinggal permanen di sana. Bahkan sejumlah vila seperti lama tidak diisi. "Vila-vila di sini mulai sepi sejak Pandemi Covid-19," kata seorang tukang bakso yang kelliling di kompleks itu dan kadang lewat depan rumah.

Kota Bunga terkenal sebagai lokasi wisata yang populer bagi pelancong dari Timur Tengah. Tak heran banyak nama resto dan toko di sana ditulis dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Sebelum Pandemi hari biasa pun ramai. "Bahkan kalau akhir pekan yang menyewa pun sulit mendapatkan vila."

Dulu, harga sewa satu rumah (vila) kecil (1-2 kamar) rata-rata di atas Rp 1 juta per malam. Sekarang merosot tajam menjadi sekitar Rp 500-700 ribu permalam..Biasanya pelancong datang berombongan, entah keluarga atau kelompok-kelompok anak muda, ada kelompok mahasiswa, pelajar, pegawai kantoran, komunitas tertentu, dan sebagainya.

Setiap akhir pekan jalan depan dan bagian samping kanan rumah kami jadi ramai dan riuh dengan para pelancong. Ada yang jalan-jalan pagi sambil berolah raga, sekedar melihat-lihat suasana dan menikmai udara dingin yang menyusup hingga ke sumsum, berfoto-foto, atau lalu lalang dengan mengunakan mobil atau sepeda motor. Sebagian terbesar kendaraan mereka berplat B (Jakarta dan sekitarnya). Namun ada pula yang beplat dari daerah lain di Pulau Jawa hingga luar Jawa.

Kadang mereka menghidupkan musik keras-keras, dari rumah agak jauh dai kami namun bisa kami dengar jelas. Ada ;pula yang tak malu-malu bernyanyi atau karaoke dengan suara yang menikam-nikam telinga. Tentu saja kami tidak perlu menegur mereka, sebab dasarnya mereka bukan penyanyi. Mereka menyanyi hanya membuang suntuk dan kejemuan.

Kami hanya punya satu tetangga yang tinggal permanen di sana -- warga Arab yang menikah dengan perempuan setempat. Lainnya para pelancong yang datang silih berganti. Kami sering bertegur sapa, dan sesekali ngobrol meskipun terasa aneh. Ia banyak bicara dalam Bahasa Arab, sedang saya pakai bahasa Indonesia.

Di dalam kompleks Kota Bunga punya wahana wisata bernama The Little Venice. Tapi saya belum mencoba aneka wahana di sana, hanya melihat-lihat dari luar. Kapan-kapan saya akan menulis panjang tentang aneka wahana, yang sebagian besar berkonsep air, hingga arena fantasi bergaya zaman koboi Amerika. Jika penasaran coba cari di Google "The Little Venice Kota Bunga Puncak".

Selebihnya saya hanya berjalan-jalan keliing kompleks sambil menikmati aneka arsitektur rumah-rumah di kluster-kluster dengan aneka tema, seperti tema Belanda, Jepang, Vinesia, dan sebagainya. Melihat aneka kluster dan desain rumah-rumah yang unik-unik itu pun sudah cukup memanjakan mata. Sesekali bablas hingga ke perkampungan di luar Kota Bunga dengan bersepeda lewat jalan-jalan kecil yang menghubungkan ke perkampungan yang pintunya dijaga petugas pengamanan.

Anak saya yang kecil suka bilang, "Mau ke Jepang dulu ya." Ia mengeluarkan sepeda dan mengayuhnya. Kluster Jepang hanya beberapa puluh meter dari kluster kami tinggal. Begitu pula kluster Belanda, pun tak jauh dari kami -- dekat pintu gerbang bagian belakang Kota Bunga. Sama seperi kluster-kluster lain, pada hari-hari biasa di "Belanda" itu juga sepi. Simaklah suasana di beberapa foto kluster #Belanda itu.

e07e22ae_db42_4e18_a16b_597bf0a62fdd.jpg

45cad745_a524_4e84_bc46_74ae824e0ace.jpg

2e329c9e_a376_4e70_89d4_085a52404d74.jpg

7513369f_8bff_46d7_9b7e_99c08ec1de67.jpg

MI 160621

Join the conversion now